Iklan
jump to navigation

Wheel Story #4: Kembali Ke Indonesia, Mengeksplore Nusa Tenggara Timur November 10, 2016

Posted by Menyusuri Jalan in Perjalanan.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

wheel-story-nttBro n Sis…. Petualangan Mario Iroth dan Lilis Handayani dalam Wheel Story season 4 saat ini telah kembali berada di Indonesia tepatnya di Nusa Tenggara Timur.

Masuk melewati perbatasan negara di Atambua lalu perjalanan dilanjut sampai ke Kupang dan dari sana perjalanan kemudian dilanjut dengan menggunakan ferry mengarungi laut Sawu hingga ke Flores.

Pelayaran panjang hingga 16 jam diatas ferry membuat perjalanan menjadi sangat membosankan, untungnya setiba di Flores (dari pelabuhan Aimere) cuaca bersahabat sehingga perjalanan menuju Ende menjadi menyenangkan dengan pemandangan gunung dan laut yang membuat betah ditambah jalanan berkelok dan mulus.

Di Ende tempat yang dituju adalah Rumah Pengasingan Bung Karno di pusat kota Ende yang merupakan tempat Soekarno menjalani hukuman pengasingan sebagai tahanan politik pada 14 Januari 1934. Puas mengelilingi kota Ende yang panas, perjalanan dilanjut dengan riding kearah Timur, mengarah ke pegunungan yang adem, tak begitu lama menikmati jalan mulus meliuk-liuk, sampailah di desa Moni yang sejuk.

Setelah berhasil mendapat penginapan yang cocok, melihat langit yang masih biru dan matahari masih tinggi, kemudian langsung tancap gas ke Taman Nasional Kelimutu yang tak jauh dari Desa Moni.

Sesampai di area parkiran, dilanjut dengan berjalan kaki sejauh 1 Km untuk melihat danau dari dekat. Ada 3 danau disana, Danau Atapolo (berwarna hijau toska) dan Danau Atambupu (berwarna putih susu) posisinya berdampingan sedangkan 1 lagi Danau Nuwa Muri Ko’o Fai (berwarna biru) berada agak terpisah di sebelah barat. Dan kalau kita ikutin anak tangga hingga sampai ke tugu maka kita pun sudah berada pada ketinggian kira-kira 1640 mdpl. Berdiri disini serasa berada dalam kedamaian dan kesejukan alam. Luar biasa Kelimutu!

Petualangan berlanjut. Kembali ke jalan raya mengarah ke arah Barat, kembali melewati Ende, riding dari pesisir pantai hingga pegunungan hijau melewati daerah pedesaan dengan jalanan penuh tikungan tajam hingga sampai di Bajawa, salah satu kota dingin di tengah-tengah pulau Flores, dinginnya minta ampun sampai jika hendak tidur harus pakai selimut tebal, apalagi mau mandi, airnya sedingin air es, mengingatkan perjalanan Wheel Story waktu di New Zealand. Luar biasa dinginya.

Karena hujan turun dengan derasnya di sore hari, sisa waktu yang ada diisi dengan bermalasan di penginapan sambil menikmati kopi Flores dengan aroma yang khas.

Keesokan harinya seperti biasa pagi dengan langit biru menyambut. Perjalanan dilanjut ke arah Selatan sekitar 20 Km menuju kampung Bena, sebuah kampung yang telah ada sejak 1200 tahun yang lalu berada di bawah kaki gunung Inerie, luar biasa penduduk disini tetap menjaga tradisi yang ada secara turun-temurun.

Cukup unik kampung ini, ada 40 rumah yang saling mengelilingi dan di tengah-tengah kampung terdapat bangunan yang disebut  bagha yang berbentuk seperti pondok kecil serta ngadhu berupa bangunan bertiang tunggal dan beratap ijuk. Beberapa masyarakat terlihat sedang menenun dan menjemur hasil ladang seperti cengkeh dan pala. Anak-anak kampung asik bermain di tengah kampung dan tak menghiraukan turis yang lalu-lalang.

Puas menikmati suasana kampung yang unik, perjalanan kemudian dilanjut hingga Ruteng setelah itu bermalam di sana sebelum petualangan kembali dilanjutkan menuju Labuan Bajo.

Kontak Blog MenyusuriJalan

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Mangga..... Komentarnya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: