Iklan
jump to navigation

Catatan Wheel Story #5, Hari Ke-21 dari Pietermaritzburg lanjut ke Swaziland Oktober 31, 2017

Posted by Menyusuri Jalan in Perjalanan.
Tags: , , , , , , , , , ,
trackback

Bro n Sis…. Memasuki hari ke-21 di Afrika, pertualangan wheel Story #5 terus berlanjut. Perjalanan kemudian dilanjutkan kenuju arah timurn dengan tujuan untuk melewati perbatasan menuju Swaziland.

Dari Pietermaritzburg ke arah timur, jalan yang dilalui oleh Mario dan Lilis melewati jalan pedesaan dengan daerah perkebunan tebu yang luas dan hamparan perbukitan hijau, selama perjalanan tidak ditemui pengendara motor satupun hanya beberapa mini bus saja yang berpapasan atau searah dengan jalur Mario.

Sepanjang jalan masyarakat yang melihat Mario dan Lilis dengan mengendarai motor yang berwarna merah cerah melambaikan tangan sambil senyum lebar. Setelah 2 jam riding, kemudian Mario masuk jalan toll mengarah ke timur hingga jalan toll berakhir sampai di Richard Bay dengan jarak kurang lebih 300 km riding di jalan toll nah di Afrika ini sepeda motor bisa masuk toll bro n sis dengan tentu saja akan kena biaya.

Menjelang sore Mario dan Lilis tetap berkendara menuju perbatasan Swaziland di Golela, untuk menuju kesana terlebih dahulu melewati beberapa Game Reserve alias Taman Konservasi. Tim Wheel Story pun beruntung bisa menyaksikan sekumpulan Gajah Afrika yang sedang makan dengan hanya berjarak sekitar 20 meter dari badan jalan.

Sambil menikmati dan menghabiskan rasa penasaran, Mario pun riding santai menuju perbatasan Golela karena apabila jeli, di area konservasi tersebut juga bisa dilihat kumpulan kancil, jerapah, bufallo dan Ostrich dari pinggir jalan saja.

Menjelang gelap akhirnya Mario dan Lilis tiba di perbatasan. Rencana awal, Mario dan Lilis berencana untuk mencari campsite disekitar perbatasan namun ternyata nihil karena hanya terdapat Lodge dengan tarif yang mahal.

Akhirnya kemudian Mario dan Lilis kembali ke desa didekat perbatasan untuk istirahat sejenak sambil memikirkan untuk lanjut atau tetap di border karena belum tahu apakah ketika sudah masuk Swaziland akan bertemu dengan campsite atau tidak.

Hari semakin gelap, setelah istirahat diputuskan untuk lanjut ke Swaziland. Perbatasan di afrika beroperasi hingga jam 10 malam, jadi tidak masalah ketika waktu masih pukul 8. Mario langsung masuk, proses imigrasi dan custom sangat cepat petugasnya pun ramah sewaktu exit Afrika Selatan, kemudian ketika masuk Swaziland, pelayanannya tidak kalah ramah.

Staff imigrasi bahkan sempat bercanda dengan Mario dan Lilis. Terakhir kemudian ada pengecekan dari polisi dan kelihatanya akan turun hujan karena gerumuh guntur mulai terdengar. Polisi yang melihat Mario dan Lilis sudah letih cukup kaget ketika mengetahui kendaraan yang digunakan Mario berasal dari Indonesia dan akhirnya ditawarkanlah pos polisi perbatasan sebagai tempat untuk istirahat.

Istirahat di pos polisi, ditemani dengan nyamuk yang silih berganti menggigit tangan dan leher ditambah dengan suasana yang ramai karena di malam tersebut terjadi perkelahian dalam pesta tidak jauh dari perbatasan sehingga akhirnya malam tersebut Mario tidak bisa tidur nyenyak.

Keesokan harinya langit begitu cerah, burung-burung mulai berkicau, waktu masih jam 4.30 pagi matahari mulai muncul, saat musim panas siang hari lebih panjang dari malam hari di Afrika. Mario kemudian melanjutan perjalanan kearah Manzini, jalan begitu sepi dan hanya terlihat savana.

Tak lama kemudian mulai terlihat aktivitas masyarakat di desa-desa kecil, kebanyakan anak-anak lagi menunggu bus ke sekolah. Hari itu sangat cerah dan semakin siang udara semakin panas. Kemudian Mario dan Lilis istirahat di salah satu supermarket di desa kecil 40 km sebelum Manzini ( kota terbesar kedua di Swaziland). Hawa panas membuat Mario dan Lilis malas bergerak hingga menunggu sore hari, namun lagi-lagi awan tebal menyelimuti daerah tersebut. 

Mario kemudian meminta izin kepada pemilik supermarket untuk bisa kemping di lokasi tersebut karena tanahnya luas. Namun Ibu Naora (si pemilik supermarket) malah menawarkan sebuah kamar di rumahnya yang berjarak 100 meter dari supermarket tersebut. Setelah menunggu sampai toko tutup (jam 6 sore) kemudian Mario bersama sama menuju rumahnya.

Rumah Ibu Naora ternyata sangat luas dan memiliki banyak bilik ciri khas rumah tradisional Swaziland. Wheel Story pun disambut baik keluarga tersebut karena mengetahui kami datang dari jauh dengan sepeda motor. Malamnya kemudian Wheel Story makan bersama di bangunan berbentuk silinder atau disebut ‘roundville’ sebagai tempat bersantai sekaligus pertemuan keluarga. Mario dan Lilis pun dihidangkan makan malam ‘Braai’ atau Daging Bakar ciri khas masakan Swaziland. Sambil lebih mendekatkan diri Mario pun mengenai Indonesia.

Beruntung Mario dan Lilis tidak kemping karena malam itu ada badai angin dimana terdengar suara gerumuh angin kencang disela-sela bangunan dan pepohonan. Keluarga ini sangat senang dengan kehadiran tim Wheel Story karena mendengar cerita perjalanan WE #5. Dari sini ada sebuah pelajaran berharga bro n sis yang diambil dimana jika kita yakin dengan melakukan hal positif maka akan selalu mendapat hal yang positif juga.

Oh iya total perjalanan yang sudah dilakukan Mario dan Lilis hingga tulisan ini MJ publish adalah 974 km bro n sis…

Blog MenyusuriJalan

Iklan

Komentar»

No comments yet — be the first.

Mangga..... Komentarnya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: