Iklan
jump to navigation

Catatan Wheel Story #5, Namibia Negara ke-4 Wheel Story Season 5. Desember 3, 2017

Posted by Menyusuri Jalan in Perjalanan.
Tags: , , , , , , , ,
trackback

Bro n Sis… Selepas menjelajahi Afrika Selatan, Mario dan Lilis kembali melanjutkan ke negara tujuan berikutnya yaitu Namibia yang menjadi negara ke-4 dalam petualangan Wheel Story season 5.

Namibia merupakan negara dengan jumlah populasi sekitar 2,4 juta jiwa, Namibia menawarkan keindahan alam yang sangat mempesona. Setelah menyusuri jalanan dan tiba di Windhoek ibu kota Namibia, Mario dan Lilis disambut oleh Duta Besar bersama staff KBRI di kantor KBRI di Windhoek. Mario dan Lilis juga sempat diwawancarai media lokal di Windhoek.

Dari Ibukota Negara Namibia ini perjalanan Mario dan Lilis menjelajahi Namibia dimulai.  Perjalanan pertama Mario dan Lilis lalui dengan melewati jalan gravel (C26) menuju ke arah Barat Daya, untuk mendapatkan traksi dan kontrol yang lebih baik di jalan gravel, ban motor pun oleh Mario dibuat sedikit kempes.

Perjalanan melewati daerah peternakan di gurun, setelah melewati jalan gravel, jalanan berubah menjadi jalan berpasir tebal setelah masuk ke jalan distrik (D1265) kontrol motor menjadi lebih susah karena harus konsentrasi penuh dan menjaga keseimbangan.

Jalan yang dilewati adalah Spreetshoogte Pass sekitar 2005 mdpl dengan pemandangan gurun yang indah namun udara kering dan oksigen yang tipis membuat riding menggunakan motor menjadi cepat lelah kalau terlalu banyak bergerak.

Setelah menempuh jarak 220 km akhirnya Mario dan Lilis tiba di Solitaire, kota kecil yang menarik. Solitaire ini merupakan kota tempat berhentinya para turis yang sedang berpetualangan karena terdapat pom bensin dan restaurant.

Setelah makan siang Mario dan Lilis kembali melanjutkan perjalanan menuju Sesriem dengan jarak sekitar 80 km dari Solitaire. Masih dengan kondisi jalan gravel perjalanan dilanjut menuju Namib Naukluft National Park. Disanalah terdapat Sossuvlei dimana terdapat daratan garam dan tanah liat yang dikelilingi oleh bukit pasir berwarna merah yang terletak dibagian selatan gurun Namib.

Namun sayang sekali motor tidak diijinkan masuk karena sekitar 40 km menuju Sossuvlei diharuskan menyewa paket tour bersama mobil 4×4 dan tergolong mahal. Karena hari sudah sore Mario dan Lilis kembali riding menuju ke Solitaire untuk kamping.

Keesokan paginya Mario dan Lilis kembali melanjutkan perjalanan, tujuan berikutnya adalah  Walvis Bay angin digurun bertiup kencang namun hari begitu cerah, angin samping bertiup kencang membuat Mario harus sedikit miring menjaga keseimbangan motor ditambah jalanan gravel yang kadang berpasir tebal dan kadang bebatuan tajam membuat akhirnya Mario harus ekstra waspada.

Dalam perjalanan menuju Walvis Bay Mario dan Lilis berhenti tepat di ‘Tropic of Capricorn’ yang merupakan garis lintang paling selatan dimana matahari bisa berada di zenith. Banyak turis berhenti untuk mengabadikan moment ini. Dan tak jauh dari sana mengarah ke utara melewati formasi alam yang indah di Kuiseb Pass dimana kita akan serasa seperti berasa di planet lain.

Total jarak dari Solitaire hingga Walvis Bay dengan melewati jalur C14 sekitar 230 km gravel namun 100 km terakhir menjadi sangat bosan karena yang terlihat hanya padang pasir berwarna putih yang silau terkena paparan sinar matahari sehingga membuat mata cepat lelah ditambah fatamorgana yang membuat Mario dan Lilis harus lebih ekstra hati-hati karena sesekali motor oleng karena roda menghantam gundukan pasir, belum lagi ketika disalip atau berpapasan dengan mobil membuat pandangan terhalang karena debu tebal beterbangan dan sesekali Mario harus berhenti sampai pandangan kembali bersih dan lanjut gas.

Dengan medan seperti itu Mario bisa merasakan endurance oli Castrol Power 1 tetap memberikan akselerasi dan juga menjaga mesin Honda CRF250Rally disetiap kondisi jalan. Hingga di Walvis Bay hari sudah sore, pasang pasir terlihat berwarna emas terkena sinar matahari sore memang menjadi daya tarik tersendiri.

Mario terus melanjutkan perjalanan hingga Swakopmund karena kebetulan penginapan yang sudah dipesan oleh Mario terletak di sana. Kota ini sepi namun udara sangat dingin dan berkabut. Sebelum matahari terbenam motor sudah Mario parkir di garasi dan menutup setiap celah diruangan karena angin dingin sangat menusuk.

Selepas istirahat, di hari berikutnya Mario dan Lilis mengunjungi Cape Cross sekitar 140 km utara Swakopmund. Uniknya perjalanan ini melewati jalan garam yang padat sehingga serasa melakukan perjalanan di jalan aspal padahal sedang berada di gurun dengan pemandangan laut Atlantic sepanjang jalur Skeleton Coast.

Di Cape Cross terdapat koloni anjing laut. Kita bisa berdiri sangat dekat dengan mereka walaupun bau amis dari badan anjing laut ini bagi yang tidak terbiasa sangat tidak nyaman. Sekitar 1 jam berada disana Mario dan Lilis pun kembali ke Swakopmund. 

Dari Swakopmund perjalanan kembali dilanjut menuju Windhoek, sebelum kembali ke Windhoek melewati jalan raya (B2) Mario dan Lilis mampir dan memutuskan kemping di Spitzkoppe dimana terdapat gunung batu berusia 120 juta tahun ditengah gurun dengan pemandangan spektakuler membuat setiap orang yang mampir pasti betah.

Malam hari di Namibia kita bisa menikmati pemandangan langit yang sangat indah karena langit di Namibia tergolong bersih tanpa polusi. Namibia memang surganya para adventurer sejati!

Blog MenyusuriJalan

Iklan

Komentar»

1. Mutiapp19 - Desember 3, 2017

postingan bermanfaat .. kapan lah saya bisa kesana yah 👍

Disukai oleh 1 orang


Mangga..... Komentarnya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: