Iklan
jump to navigation

Catatan Wheel Story #5, Sudan Negara Yang Membuat Rindu Akan Tanah Air Indonesia April 15, 2018

Posted by Menyusuri Jalan in Perjalanan.
Tags: , , , , , , , , , ,
trackback

Bro n Sis… Selepas menjelajahi Ethiopia, Mario dan Lilis yang melakukan perjalanan di benua Afrika menggunakan CRF250Rally dalam Wheel Story season 5 terus berlanjut. Negara ke-14 yang menjadi tujuan berikutnya adalah Sudan.

Di hari ke 166 di benua Afrika, Mario dan Lilis masuk ke Sudan melalui Gallabat, perbatasan bagian selatan yang berbatasan dengan Ethiopia. Proses imigrasi dan custom berjalan lancar. Mario dan Lilis diwajibkan registrasi ulang visa Sudan diperbatasan sehingga ketika ada check point semua berjalan lancar.

Sekitar 80 Km pertama kondisi jalanan rusak dan berlubang, hanya savana dan perkampungan kecil yang terlihat, belum lagi cuaca panas mencapai 43°C, untung camel bag yang dibawa menampung 3L air minum. Sekitar 150 Km berkendara dari perbatasan hujan lebat mengguyur area gurun. Tidak ada tempat berteduh. Mario berkendara dengan hati-hati karena jarak pandang terganggu oleh air hujan disertai angin kencang. Lumayan hujan membuat suhu lebih adem karena air hujannya terasa seperti air es. Sore hari menjelang malam Mario dan Lilis memutuskan untuk bermalam di kota Al-Qadarif.

Hari selanjutnya Mario dan Lilis sudah bangun dari jam 6 pagi. Mario memutuskan untuk riding lebih pagi supaya udara masih sejuk. Biasanya mulai jam 10 pagi udara mulai panas menyengat. Mario dan Lilis masih harus menempuh jarak sekitar 400 Km untuk tiba di Khartoum.

Menjelang tengah hari tiba, prediksi sangat tepat sekali terpaan angin serasa ditiup pakai hairdryer. Siang itu temperature mencapai 46°C. Bukan main panasnya. Belum lagi polisi check point hampir setiap 25 km menanti kadang bikin kesal karena berhenti sejenak dibawah terik matahari yang membakar kulit.

Sesekali Mario dan Lilis berteduh di warung kecil pinggir jalan untuk mendinginkan tubuh sambil minum teh dan kopi khas Sudan yang nikmat. Sampai di Khartoum, Mario dan Lilis kemudian disambut di KBRI Khartoum. Disini Mario dan Lilis akan memulai pengurusan visa Mesir. Sambil menunggu visa selesai, Mario dan Lilis sempatkan bertemu dengan Mahasiswa Indonesia di Khartoum. Biasanya mereka sering nongkrong di Warung Nusantara (warung Indonesia yang dikelola oleh Mahasiswa Indonesia). Sambil menyantab makanan Indonesia yang sudah kangen berat sambil ngobrol bebas dengan Mahasiswa Indonesia di Sudan yang datang dari berbagai daerah di Indonesia.

Mario dan Lilis juga sempat mendapat undangan mengunjungi pabrik Indomie yang terletak tidak jauh dari Khartoum. Sambil menceritakan pengalaman touring Mario dan Lilis di Afrika didepan staff Indomie yang berasal dari Indonesia, Mario dan Lilis pun diajak untuk melihat proses pembuatan hingga pengepakan Indomie.

Selepas berkunjung ke pabrik Indomie, selanjutnya Mario dan Lilis diwawancara oleh journalis yang memuat berita Wheel Story di beberapa media cetak dan online di Sudan. Ketika visa mesir sudah siap, Mario dan Lilis belum bisa melanjutkan perjalanan ke bagian utara karena tertahan oleh badai pasir yang melanda Khartoum. Mario dan Lilis menunggu hingga badai pasir reda 2 hari lamanya.

Setelah cuaca bersahabat, perjalanan kembali Mario dan Lilis lanjutkan. Dilepas oleh seluruh staff KBRI Khartoum, dari depan KBRI Khartoum Mario dan Lilis kembali melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan menuju utara, masalah lainya sudah menanti. Mario dan Lilis susah mendapatkan bahan bakar dikarenakan kilang sedang dalam tahap maintainance sehingga mengakibatkan pasokan bahan bakar ke berbagai tempat menjadi terhambat.

Untunglah bahan bakar masih bisa ditemukan di Black market walaupun harganya jauh lebih mahal, namun tetap masih terasa masih murah karena memang di Sudan bahan bakar sangat murah. Bayangkan saja satu liter seharga 6 PoundSudan atau sekitar 2500 rupiah.

Mario dan Lilis menghabiskan beberapa hari di kota Karima. Disini Mario dan Lilis mengunjungi Pyramida Jebel Barkal yang diklaim sebagai pyramida tertua, walaupun tidak sebesar pyramida Giza di Mesir.

Masyarakat Sudan terkenal sangat ramah, Mario dan Lilis sempat di beri tempat istirahat dan makan oleh 2 keluarga sewaktu Mario dan Lilis tidak berhasil mendapatkan bensin.

Perjalanan Mario dan Lilis lanjutkan kearah utara melewati gurun pasir, banyak check-point oleh militer namun semuanya ramah dan bersahabat apalagi kalau mendengar Indonesia mereka akan langsung teringat dengan Soekarno (Presiden pertama RI).

Hari terakhir di Sudan Mario dan Lilis tinggal di penginapan sederhana di pinggir sungai Nil, menikmati sunset dari pinggir sungai Nil dan menikmati makanan tradisional khas Sudan. Selanjutnya tak jauh dari sana sekitar 200km lagi Mario dan Lilis akan tiba di perbatasan Eshket berbatasan langsung dengan Mesir dan mengakhiri petualangan di Sudan dengan total perjalanan sampai dengan mau masuk perbatasan Mesir sejauh 23.580 km.

Blog MenyusuriJalan

Iklan

Komentar»

1. ardiantoyugo - April 15, 2018

mantabh banget nih Om Mario…

Suka


Mangga..... Komentarnya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: