Wheel Story Jelajahi “Cabo de Flores”

Bro n Sis…. Setelah menjelajahi Pulau Dewata Mario Iroth dan Lilis Handayani yang sedang melakukan perjalanan Charity in Flores melanjutkan perjalanan menuju Pulau 1001 Masjid yaitu Lombok melalui jalur laut.

Waktu menyebrangi selat Lombok ombak sedang lumayan besar namun perjalanan selama 5 jam dengan ferry aman terkendali. Setelah tiba di darat, Mario kemudian lanjut gas ke Mataram dan keesokan harinya dari pagi hari Mario sudah mulai bergerak ke arah utara lewati area Senggigi dulu lalu melewati pedesaan dan jalan mulai nanjak, terlihat gunung Rinjani yang megah, jalanan mulus dan berkelok membawa Mario hingga Sembalun dan disana Mario kunjungi bukit Selong agar bisa melihat pemandangan gunung dan petakan kebun yang hijau.

Setelah sore, Mario kemudian lanjut gas lagi ke arah timur, menyebrang dari Khayangan ke Poto Tano Sumbawa dan sebelum matahari tenggelam sudah berada di Sumbawa Besar dan beristirahat disana.

Hari berikutnya Mario kembali lanjutkan perjalanan ke Timur, hingga Sape dan dari sana Mario akan menumpangi ferry lagi menuju Labuan Bajo. Ini menjadi kapal ferry ke 6 dari pulau Jawa – Bali – Nusa Penida – Bali – Lombok – Sumbawa dan sekarang menuju pulau Flores yang tak kalah indahnya dengan pulau lain yang dimiliki Indonesia.

Petualangan di Flores dimulai oleh Mario dan Lilis dari Barat yaitu Labuan Bajo, Mario menuju desa adat Wae Rebo di Kabupaten Manggarai, untuk menuju ke daerah tersebut Mario harus trekking selama 2 jam dari desa terakhir yaitu desa Denge, melewati hutan dan perbukitan hingga tibalah di desa adat Wae Rebo yang terpencil dan berada pada ketinggian sekitar 1200 mdpl.

Desa adat Wae Rebo sungguh tentram dan indah. Setelah menginap satu malam dan berbaur dengan warga lokal di Wae Rebo, Mari kembali melanjutkan perjalanan kembali ke arah Timur, melewati jalanan penuh kelokan kemudian melewati kota Ruteng yang sejuk, lanjut gas lagi hingga tiba di Bajawa yang dingin ketika hari sudah malam.

Di hari berikutnya, Mario kemudan mengunjungi kampung adat Bena yang terletak tak jauh dari Bajawa. Berbeda dari Wae Rebo yang rumahnya berbentuk serucut dan melingkar, rumah tradisional di Bena berbentuk kotak dengan atap berbentuk trapesium. Sungguh unik dan tak bosannya Mario bisa berada di tempat tersebut.

Meski masih ingin tinggal di kampung adat Bena namun Mario harus kembali melanjutkan petualangannya hingga perjalanan kembali dilanjut ke arah timur. Kembali melewati jalan trans Flores yang penuh tikungan tak heran rasanya kalau Flores dijuluki negeri 1000 tikungan. Sebelum sunset tiba Mario dan Lilis akhirnya tiba di Kota Ende.

Tepat pada tanggal 14 Agustus, Mario ikut memeriahkan Festival Kelimutu yang digelar di area gunung Kelimutu. Tak rugi ikut festival Kelimutu karena disini Mario bisa langsung mengikuti festival tahunan ‘Patika Dua Bapu Ata Mata’ atau ritual memberi makan leluhur didalamnya ada parade musik tradisional dan tarian tradisional lengkap dengan pakaian adat

Tidak lupa mario pun menikmati keindahan 3 danau berwarna di Gunung Kelimutu ini. Luar biasa indahnya Flores sampai orang Portugis menamakan pulau ini ‘Cabo de Flores’ atau ‘Tanjung Bunga’.

Nah buat bro n sis yang masih penasaran seperti apa gambar-gambar selama perjalanan Mario menjelajahi Flores bisa bro n sis lihat foto-fotonya di bawah ini.

 

Blog MenyusuriJalan

Mangga..... Komentarnya...

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s